(berbagi tentang kehidupan di pascasarjana UPI)
Hai para pembaca semua…kenalkan namaku yul (panggilan kelauarga), ada yang manggil via bahkan ada yang manggil sani, begitu banyak nama panggilanku bukan? Nama panjangku sich Yulvia sani, so…you can call me whatever what do you want, tapi inget jangan keluar dari kontek nama panjangku. Aku sekarang 24 tahun, sudah tua bukan? Tapi ngak setua kalian yang lagi baca ini kan? Hehehe…(just kidding), sekarang aku lagi menimba ilmu disalah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia yaitu Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, aku menimba ilmu pada tingkatan Magister dengan jurusan Pendidikan Khusus. Sebenarnya perkenalan itu ngak penting sich, hanya saja untuk mendekatkan antara penulis dan pembaca saja.Dalam tulisan ini aku akan berbagi tentang pengalaman hidupku dalam satu tahun belakangan ini. Dimulai dari tanggal 10 september 2012 aku bekerja disalah satu sekolah berkebutuhan khusus di Tanggerang Selatan, orang lain menyebutnya adalah sekolah untuk anak special needs termahal se Tangsel, walaupun termahal tapi gaji gurunya paling kecil se Tangsel mungkin…hahahaha…ngak usah dibahas ya, sensitive soalnya. Aku memilih Jakarta untuk tempat bekerja adalah untuk menyiapkan masuk ke Pascasarjana UPI, serpihan demi serpihan koin aku kumpulkan dalam satu tahun itu, tapi yang membuat aku muak adalah “setan boros” yang membuatku ngak dapat ngumpulin banyak uang untuk rencanaku masuk pascasarjana. Tahun itu kujalani dengan rasa yang teramat sedih, karena aku harus tinggal bersama orang yang bukan saudaraku mungkin, hanya orang yang aku kenal bahkan aku kagumi dan memotivasiku untuk mengambil sekolah pascasarjana. Bisa dikatakan hanya teman- teman kerjaku yang membuatku bahagia dan pacarku, yang sekarang berubah status menjadi calon suamiku (amin) yang selalu menemaniku dalam keseharianku yang larut akan kesedihan karna tinggal dengan orang yang serba menuntutku sempurna, yang selalu menganggap remeh kemampuanku dan sebagainya.
Dan tanggal 1 september 2014 ini aku resmi menjadi mahasiswa pascasarjana dengan keadaan keuangan yang sangat minim, untuk biaya masuk semester I aku harus membuang maluku jauh- jauh untuk meminjam uang orang tuaku, dan karena aku mereka harus meminjam bank, begitu besarnya peran orang tua terhadap kita (so…jangan pernah kecewakan mereka). Aku hanya bisa ngekost dikamar dengan ukuran 2x2,5 kalian bisa bayangkan betapa kecilnya itu, terkadang aku malu dengan teman- teman yang lain yang S2 juga, mereka dapat ngontrak pertahun hingga 8jta pertahun, sedangkan aku hanya bisa ngekost dengan biaya 300rbu perbulan. Tapi sejauh ini perasaanku nyaman, perasaanku bahagia dan bersyukur karena dapat melanjutkan study ke S2.
Pernah ada ucapan dari teman- temanku yaitu “aku bisa bayangkan betapa kecilnya kamarmu, kenapa ngak ngontrak deket- deket sini, kenapa yang jauh, sudahl kosanmu deket sama dapur, agak kotor”, aku hanya menjawab “aku tidak bisa membayar secara utuh 8 juta untuk kosan”, dan dia hanya diam seperti malu, so what?? kamu belum tentu punya skill dari pada aku (kataku bergumam). Terkadang ada teman yang ingin main ke kostanku, tapi aku lebih baik menghindar untuk mengajak mereka, karena mereka sangat berbeda denganku. Mereka dikuliahkan orang tua dan hanya tinggal meminta, sedangkan aku harus cari sendiri dan berdiskusi dengan calon suamiku tentang keuangan. Hanya itu yang bisa kulakukan demi semua cita- cita ku tergapai. Membuat orang yang aku cintai terbantu dengan keuanganku nantinya, membuat orang yang aku sayangi bangga akan apa yang kuperoleh adalah tujuan ku yang paling utama untuk meneruskan studyku.
Sebulan sudah aku duduk di pascasarjana dengan berbagai model teman yang aku jumpai, dan berbagai suku yang aku pelajari ketika aku bergabung dikelas pendidikan khusus. Semua terasa menyenangkan, semua terasa membahagiakan, padahal dibelakang aku selalu berpikir tentang keuanganku setiap harinya. Namun, Alhamdulillah sekarang aku freelance disebuah bimbel yang berada diBandung, aku mengajar dengan bidang study Bahasa Indonesai untuk kelas tinggi, dan honorku tidak seberapa hanya dapat menambah- nambah untuk bayar kosan saja. Akan tetapi pekerjaanku itu membuat aku belajar kembali akan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar setidaknya membantuku dalam menerjemah buku Bahasa Inggris dan dalam penulisan Tesisku kelak.
Dalam kehidupan sehari- hari aku hanya memegang uang 10.000 rupiah sehari, itu hanya untuk ongkos angkot kekampus, kemudian untuk memasak aku meminta pinjaman kompor kepada tetangga kosan, aku yang membayar untuk gasnya, dan Alhamdulillah mereka mau untuk meminjamkanku, nah…untuk urusan makan aku harus masak satu kali dalam 2 hari, sehingga penghematan untuk perutku berhasil kulakukan. Semenjak aku lulus kuliah S1 pada tahun 2012 aku tidak pernah lagi meminta uang kepada orang tuaku, kenapa? Karena itu sudah tidak wajar sekali, dan orang tuaku juga bukan dari keluarga kaya, tapi setidaknya mereka mementingkan semua anaknya untuk sekolah, dan Alhamdulillah aku sekeluarga adalah keluarga pendidikan semua.
Aku terkadang sungguh iri dengan teman- teman yang memakai barang- barang dengan merk terkenal ke kampus, makan diluar dan main ke mall karena aku tidak bisa merasakan itu, baru 1 bulan kuliah aku sudah merasakan kesulitan dalam hal keuanganku, namun aku selalu memotivasi diriku untuk dapat membahagiakan orang- orang terdekatku dengan prestasi yang kudapat tanpa menyusahkan masalah keuangan kepada mereka. Aku punya sedikit kata- kata motivasi untuk teman- teman yang serupa nasibnya dengan ku “ berbanggalah apa yang kamu peroleh saat ini, rejeki semua diatur oleh ALLAH, bulatkan tujuanmu, bulatkan pengharapanmu, biarkan kita dipandang sebelah mata sekarang tapi dunia akan menatap kita ketika kita berusaha keluar dari zona nyaman kita”. Jadi, abaikan semua perkataan yang tidak penting, abaikan ujaran yang tidak ada gunanya, dari sinilah, dari masalah ini semuanya akan dimulai.
Nah…..pembaca, sampai disini dulu cerita awalku memasuki dunia yang menyeramkan, akan kubagi bersama kalian bagaimana dapat lulus dan dapat berdiri diatas segala kekurangan. Do’akan aku bisa ya.. soalnya untuk membayar semester 2 aku ntah bisa membayarnya ntah tidak.. :( to be continiued.
Tag :
Indonesian,
Story